Serius deh…..nggak pernah menyangka….ngajar di SD itu semenyenangkan ini :)
Tampilkan postingan dengan label BU GURU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BU GURU. Tampilkan semua postingan
Selasa, 19 November 2013
Jumat, 19 April 2013
Saya (selalu) sayang mereka
Beberapa hari kemarin, di kelas saya bawaannya marah2 terus…
bener2 marah..pada anak2.
Entah berapa kali nada tinggi keluar dari mulut saya….
Tapi emang kemarin2 itu saya asli gemesssss poll sama anak-anak. Ramenya nggak ketulungan, glodakan (pukul2 meja), dijelasin malah asyik ngobrol ini itu, suruh mengerjakan latihan soal malah ada yang lari sana-sini, giliran dikoreksi latihannya…nilainya jeblog…
Tapi…..meskipun mereka ini sering banget bikin tensi naik gegara ‘huru hara’ mereka„ bikin pusing gegara nilainya nggak optimal„,mereka juga sering membuat saya mesem-mesem sendiri kala ingat mereka.
Entah berapa kali nada tinggi keluar dari mulut saya….
Tapi emang kemarin2 itu saya asli gemesssss poll sama anak-anak. Ramenya nggak ketulungan, glodakan (pukul2 meja), dijelasin malah asyik ngobrol ini itu, suruh mengerjakan latihan soal malah ada yang lari sana-sini, giliran dikoreksi latihannya…nilainya jeblog…
Tapi…..meskipun mereka ini sering banget bikin tensi naik gegara ‘huru hara’ mereka„ bikin pusing gegara nilainya nggak optimal„,mereka juga sering membuat saya mesem-mesem sendiri kala ingat mereka.
Bayangkan aja, nggak peduli kemarinnya habis saya marahi kayak
apa, saya bentak segitunya, keesokan harinya,setiap pagi, ketika melihat
saya datang, mereka selalu berlari menghampiri, berbondong-bondong, teriak “Bu
Diaaaaaaaann”, terus berebut salim.
Pun saat istirahat„mereka hoby sekali nempel-nempel saya„,sambil
cerita apa yang kemarin mereka lakukan di rumah dengan gaya khas dan polosnya
mereka
Nggak ada dendam sama sekali pada saya…….
Ahhhh…….anak-anakku…..kalian ini……emang nano-nano…… campur aduk
rasanya….
Bu guru sayang kalian dehhhhh
Selasa, 05 Februari 2013
Belajar bersyukur
Yang namanya belajar tu
bisa dari mana saja, bisa dari siapa saja. Yang muda nggak melulu belajar pada
yang lebih tua, yang anak-anak nggak melulu belajar pada yang lebih dewasa.
Kadang yang tua belajar dari yang lebih muda, yang dewasa belajar dari anak-anak.
I proved it.
Kurang lebih 2 bulan saya
mengajar di SD, saya banyak belajar dari murid-murid saya. Salah satunya adalah
belajar untuk bersyukur.
Belajar
bersyukur
Suatu hari saya pernah
marah pada salah satu murid saya, tingkahnya sudah keterlaluan menurut saya.
Pagi-pagi sudah berkelahi, setelah jam istirahat usai, bukannya langsung masuk
kelas malah nongkrong di TK belakang
sekolah, tiada henti menganggu teman saat jam pelajaran, di kelas mainan tisu,
mainan tembak-tembakan., ribut tiada henti.
Akhirnya sepulang sekolah, dia saya ajak bicara.
Saya bertanya : Kamu kenapa sih dek, kok ngganggu
temanmu terus? Kok di kelas ribut terus? Niat sekolah nggak to?
Si murid : ya niat to Bu,
Saya : Kamu pengen jadi anak
yang bisa dibanggakan orang tuamu nggak?
Si murid : ya pengen....
Saya :kamu pengen jadi anak yang
bisa dibanggakan ibumu nggak?
Si murid : ya pengen ....
Saya : kamu pengen jadi anak
yang bisa dibanggakan bapakmu nggak?
Si murid : saya nggak punya bapak og
Bu... (dengan raut wajah yang berubah jadi sendu, meskipun tetap cengengesan
seperti biasa, tapi matanya nggak bisa bohong, keliatan banget kalo dia hampir
nangis)
Saya : Lha kemana bapakmu?
Si murid : minggat og bu...
Saya : *speechless* *nggak tau
kudu ngomong apa*
![]() |
| gambar dari : weheartit.com |
Saya jadi berpikir,,,
nggak menutup kemungkinan, si murid itu bertingkah mengganggu bukan karena
nakal, tapi lantaran dia pengen mendapat perhatian. Belakangan saya tahu kalo
ibunya ternyata bekerja sebagai TKW di luar negeri. Lengkap sudah, nggak ada
sosok ayah pun ibu di dekatnya. Sebagai
tambahan, anak ini juga jarang sekali mengerjakan PR. Kemungkinan karena selain
malas, juga karena tidak ada yang memantaunya di rumah.
Hal itu membuat saya
bersyukur, saya punya orang tua yang lengkap, yang sangat sangat perhatian,
yang sangat menyayangi saya.
Yang selalu bertanya
“Sudah makan?” ; “Tadi di sekolah belajar apa?”
Yang selalu menemani saya
mengerjakan PR ; yang selalu mengajari materi yang tidak saya pahami di
sekolah.
Yang sering membelikan
saya buku cerita ; majalah anak.
Yang kadang mendongeng
untuk saya sebagai pengantar tidur.
Beuntungnya saya......
Senin, 10 Desember 2012
Huftt
Rasanya tu nyesel. Bener
deh merasa bersalah banget kalo sampe mbentak anak-anak. Sebenarnya nggak
pengen teriak-teriak, nggak pengen marah-marah. Tapi??? Kalo ada anak yang
sudah keterlaluan gmn donk? Masa’ ni ya, dinasehatin gurunya malah
cengar-cengir, dibilangin gurunya malah tutup kuping,,, itu sih nglawan
namanya.
Hfffttt sebenarnya cuma 2
anak sih yang naudzubillah susah beneerrr dibilangin,,,tapi dua anak itu punya
kemampuan luaaar biasa untuk mengacaukan kestabilan kelas. Yang ngumpetin tas,
tempat pensil, bla bla bla punya temennya, pokoknya usill banget! Mana kalo ada
tugas nggak pernah dikerjain sampai selesai.... Ampun deh,,,semoga mereka
berdua segera diberi pencerahan.
Jumat, 07 Desember 2012
Apa ya?
Oke!! Setuju banget kalo ada yang
bilang “teori mah guampang,,prakteknya yang susyaaahhh”
Dulu ya,,waktu kuliah kayaknya
enak banget tu teorinya,,misal : Biar murid betah mengikuti pelajaran, guru
hendaknya menyediakan media yang menarik. Biar murid tidak bosan belajar di
sekolah, sebaiknya selingi dengan kegiatan yang menyenangkan, bla bla bla
Tapi? Ternyata nggak segampang
itu lho bok di lapangannya. Tadi aja ni ya, mumpung udah selesai tes akhir
semester, anak-anak kelas II diajak nonton film.
Awalnya sih mereka antusias,
duduk tenang, menyimak film, ehhhh 15 menit kemudian udah mulai ada yang
ngantuk, jalan2 di kelas, gojek dengan temannya. Saya pikir sih mungkin
gara-gara filmnya (Denias) agak berat kali ya untuk seumuran mereka. Lalu saya
ganti deh film Denias dengan animasi Timun Emas.
Barangkali mereka lebih suka film
animasi yang gambarnya lucu dan nggak butuh mikir berat. Tapi...tapi...tapi sama
saja ternyata saudara-saudara! Cuma separo kelas yang anteng dan khusyuk
menyimak. Lainnya? Ada yang main plendungan,
ada yang kejar-kejaran, ada yang ngalamun, ada yang sibuk mainan.
![]() |
| picture from we heart it.com |
Arggghhh...ini mereka maunya apa
sihhhh?
Diajak nonton film aja nggak
antusias, apalagi diajak belajar??
Teng...teng...teng....siap-siap
putar otak untuk menaklukkan mereka, menarik keantusiasan belajar mereka, membuat
mereka betah di kelas.
HARUS BISA!!!!
Senin, 03 Desember 2012
Jadi Bu Guru
Waaaa...bulan Desember
udah dateng yaaa....Cepet banget ya waktu berjalan.
O iya...saya belum cerita
ya tentang kegiatan teranyar saya belakangan ini. Jadi, sekitar 3 minggu ini
saya punya kesibukan baru : wiyata bakti di SD. Yaaa belum resmi pegang kelas
sih, masih bantu2 guru kelas II aja.
Sebenarnya wiyata bakti di
SD ini lumayan jadi beban berat buat saya. Pertama, dulu sepupu saya, Hana,
pernah wiyata bakti di sini juga. Dan dia itu pinter banget. Mau nggak mau
pasti guru-guru di SD itu sedikit banyak membandingkan saya dengan Hana. Kedua,
saya alumni SMA N 1 Salatiga yang notabene sekolah top di Salatiga ditambah
lagi IPK yang.....ehm...lumayan (hehe), pasti membuat orang-orang menaruh
harapan tinggi pada saya. Takutnya, saya tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka,
takut mengecewakan.
Tapi yasudahlah...jalani
saja. Berusaha yang terbaik. Belajar terus.
Karena guru SD itu punya
tanggung jawab yang buesar banget. Mendidik anak yang masih imut2,,yang masih
polos2,,tidak hanya memberi pelajaran berupa materi pelajaran, tapi juga
menanamkan kebiasaan, pengertian, karakter yang saya yakin, apa yang saya ajarkan
akan selalu mereka ingat sampai mereka besar.
![]() |
| jaman PPL |
Ada satu lagu favorit yang sering dinyanyikan di
kelas II, judulnya Terima Kasih Guruku kalo nggak salah.
“Pagiku cerahku
Matahari bersinar
Kugendong tas merahku di pundak
Slamat pagi semua
Kunantikan dirimu
Di depan kelasku
Menantikan kami
Guruku tersayang
Guruku tercinta
Tanpamu apa jadinya aku
Tak bisa baca tulis
Mengerti banyak hal
Guruku terima kasihku
Nakalnya diriku kadang buatmu marah
Namun segala maaf kau berikan”
Langganan:
Postingan (Atom)







